Unma » Home » Artikel » Seri Bacaan Pendidikan Dasar (1)

Kamis, 28 April 2015 - 20:50:32 WIB
Seri Bacaan Pendidikan Dasar (1)
Oleh : fapendas
Dibaca: 4372 kali

Seri Bacaan Pendidikan Dasar (1)

 

WASPADALAH !!

SISI GELAP KASIH SAYANG ORANG TUA

Oleh

E. Kosmajadi, M.M.Pd

 

Pengantar

Dalam hidup dan kehidupan manusia, terdapat satu kata yang paling indah, yakni IBU. Bagi para cerdik cendekia, demikian juga bagi seniman dan budayawan, ibu merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis, bagaikan sumur air yang tak pernah kering walaupun terus ditimba. Oleh karena itu, sungguh bijaksana apabila para pendidik yang tertarik untuk membahas tentang pendidikan dasar diawali dengan merenungkan berbagai hal yang berkaitan dengan ibu.

Sebagai awal renungan bagi penulis, tersirat dalam benak yang kemudian dituangkan ke dalam tulisan ini, bahwa Ibu merupakan makhluk paling berjasa di muka bumi dan merupakan makhluk mulia karena jasa dan kasih sayangnya.

Penulis berani menyatakan bahwa ibu adalah makhluk paling berjasa, karena banyak fakta tak terbantahkan, bahkan ajaran Islam mengakuinya secara tegas dengan banyaknya dasar hukum (dalil) baik Firman Allah dalam Al Quran maupun sabda Rosul (hadits) yang intinya memposisikan ibu pada kedudukan yang tinggi dan terhormat.  Ajaran Islam memberikan arah perhatian yang tajam terhadap pentingnya pihak yang paling dihormati dalam Islam, yakni seorang ibu yang dianggap paling berjasa dalam memelihara eksistensi manusia secara komprehensif dan berkesinambungan.

Dikatakan komprehensif karena menyangkut berbagai hal, baik lahiriyah maupun batiniyah. Artinya, peran seorang ibu dalam melahirkan seorang manusia baru mencakup jasad dan jiwa. Jasad sang anak, dibentuk sejak masih barupa tetesan air, kemudian berubah menjadi setetes darah, segumpal daging, sampai akhirnya menjelma wujud manusia baru (janin), semua proses terjadi pada jasad sang ibu (rahim). Dengan demikian, pertumbuhan jasad sang anak selama dalam kandungan senada seirama dengan detak jantung dan helaan napas sang ibu. Demikian juga berkenaan dengan jiwa, saking eratnya seakan tak pernah ada yang dapat memutuskan pertalian jiwa anak dengan ibunya, bahkan nyaris tak ada yang lebih mengetahui tentang karakter sang anak kecuali ibunya. Berkenaan dengan hal ini, ada orang yang berpandangan bahwa jiwa anak adalah belahan jiwa ibunya, saking eratnya pertalian jiwa anak dan ibunya. Lebih jauh dari itu, kelak di kemudian hari, setelah sang anak mengembara menjelajahi luasnya alam kehidupan, atau merantau ke negeri sebrang dengan segala fasilitas dan kesombongan, kemudian jika suatu saat dirundung malang dan mengalami kebuntuan berpikir serta tidak ada orang lain yang sudi mendengarkan curahan hati atau tidak memperdulikan apa yang  ia alami, ibulah yang siap menerima kehadiran sang anak dalam keadaan apa pun. Itulah kiranya, mengapa Islam sangat memuliakan derajat kaum wanita dalam predikatnya sebagai ibu. Faktanya, selama dalam keadaan normal alami, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak pernah kering bagaikan air yang selalu mengalir. Ibu yang bijak dan bajik, bersedia mengorbankan apa pun demi anaknya, bahkan nyawa sekalipun. Maka, wajarlah jika ada orang berpendapat bahwa utang anak kepada ibunya tak mungkin terbayar walaupun harus menyerahkan jiwanya. Namun hebatnya lagi, tak pernah ada seorang ibu yang menagih utang seperti itu pada anaknya.  

Dikatakan berkesinambungan karena kasih sayang dan perjuangan ibu dalam mendidik anak-anaknya tak berujung. Dalam beberapa hal, ada juga yang menyatakan bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya hanya sampai anaknya menikah, setelah itu lepas karena   sudah masuk kategori dewasa dan siap melahirkan generasi manusia baru. Tapi faktanya tidak demikian, sampai ke cucu dan buyut pun  peran ibu akan terus berlanjut, paling tidak dalam bentuk pewarisan nilai dan norma. Ibu yang bijak menghendaki agar kasih sayang dan tanggungjawabnya terwariskan secara turun temurun yang pada akhirnya akan menjadi sebuah tradisi positif dan mewarnai tabi’at suatu kelompok masyarakat, bahkan suatu bangsa. Anak yang lahir dari keluarga yang dipandu oleh seorang ibu yang bijak akan melahirkan generasi muda harapan bangsa yang kuat dan bertanggungjawab. Sehingga akan menjadi pendukung terhadap kokohnya suatu Negara dan bangsa.

Hal kedua, Ibu adalah makhluk mulia karena jasa dan kasih sayangnya. Penulis beranggapan bahwa keberadaan ibu di tengah-tengah kehidupan manusia dapat dijadikan bahan diskusi yang menarik bagi kita, terutama berkenaan dengan pertanyaan tentang penyebab semua itu, “Mengapa Islam begitu besar perhatian dan penghargaannya kepada kedua orang tua?”.  Dalam hal ini, firman Allah dapat kita jadikan dasar untuk menjawab pertanyaan tersebut, yakni QS Al-Ahqaf ayat 15, yang artinya: “Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”, selain itu coba simak firman Allah berikutnya dalam QS Al-Israa ayat 24 yang artinya “  “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil”.

Untuk memahami betapa pentingnya memuliakan dan berbuat baik kepada orang tua tidaklah sulit jika mau merenung dan memperhatikan setiap kata yang terdapat pada firman Allah tersebut. Salah satu potongan kalimat yang bermakna dalam ayat di atas adalah “mereka berdua telah mendidikku”, itulah alasan kuat mengapa seorang anak wajib berbuat baik kepada orang tuanya, karena mendidik anak bukan pekerjaan mudah dan tidak sekedar mendidik agar menjadi manusia berguna, melainkan mulai dari mengandung, melahirkan, memberi makan minum serta melatih berkata, berkarya, berperilaku, dan semua hal yang berkaitan dengan hidup. Dengan demikian, disadari atau tidak, seorang anak telah menjalani proses pendidikan sejak ia dilahirkan, bahkan sebelum lahir (pre-natal) yang dididik oleh alam dan dipandu oleh kedua orangtua. Dalam hal ini, oleh karena peran ibu jauh lebih banyak dibanding peran ayah, lahirlah istilah yang  tidak asing lagi bagi insan pendidikan, yakni ungkapan “Ibu adalah pendidik pertama dan utama”. Apa yang dilakukan oleh setiap ibu, termasuk apa yang diungkapkan oleh Lodge dalam Bhagirathi Sahu (2004:261) “life is education, education is life (hidup adalah pendidikan, pendidikan adalah hidup”. Konsep demikian masuk kategori  pendidikan dalam arti luas, di mana proses pendidikan dapat terjadi di mana saja dan oleh siapa saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, karena menyatu dengan tata kehidupan sehari-hari, sehingga pihak yang terlibat tidak menyadarinya.

Dengan memperhatikan hal tersebut, jelas bahwa ibu adalah manusia yang paling berjasa bagi anak cucunya yang pada gilirannya akan berdampak kepada masyarakat luas. Jasa terbesar seorang ibu adalah mendidik anaknya, mendidik dengan kasih sayang yang tulus. Proses pendidikan  yang berlangsung di lingkungan keluarga dengan ibu sebagai pendidik utamanya, walaupun tidak dirancang secara formal tetapi memungkinkan terciptanya masyarakat yang tertata dengan rapih karena nilai-nilai moral dan etika telah ditanamkan oleh sang ibu kepada anak-anaknya dalam keluarga. Menariknya lagi, sekecil apa pun kemampuan sang ibu, pada saat ia memiliki anak (anak pertama), perilakunya akan serta merta bertindak sebagai pendidik. Hal ini dimaklumi, bahwa manakala seorang gadis mengakhiri masa lajangnya   dan menikah dengan seorang pria lalu membangun keluarga, saat itu pula oleh Allah dipersiapkan untuk menjadi seorang pendidik bagi anak-anaknya. Dengan kata lain, naluri seorang ibu akan muncul manakala seorang wanita telah melahirkan anaknya. Di samping kemampuannya dalam hal mengasuh anaknya, bersamaan dengan itu kasih sayang pun mengalir deras bagi anaknya. Kasih sayang yang tulus, bukan kasih sayang buatan, karena bersumber dari kasih sayang Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Subhanallah.

Untuk menggambarkan betapa besarnya kasih sayang seorang ibu, dalam Kamus Peribahasa yang ditulis JS Badudu (2008:22), dikemukakan bahwa “Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan”. Artinya, kasih sayang ibu terhadap anaknya tidak sama dengan kasih sayang anak terhadap ibu. Kasih sayang ibu itu sangat panjang seperti jalan raya, tetapi kasih sayang anak terhadap ibu sering terbatas, hanya sebanding dengan panjangnya penggalan. Kemudian menurut Sumartono (2004:6), “Kasih sayang adalah ungkapan tulus tanpa pamrih yang dilakukan sebagai wujud pengorbanan tanpa batas”. Maka, apabila direnungkan, kasih sayang orang tua yang sudah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan manusia, keindahan dan kebahagiaan hidup akan menjadi keseharian anak manusia. Oleh karena itu, dengan kasih sayang yang diberikan oleh ayah dan ibu, seorang anak akan tumbuh menjadi menusia yang berkepribadian, mandiri, maju, santun, dan bertanggungjawab (berkarakter). Orang tua tak pernah menghitung berapa rupiah yang dikeluarkan untuk membesarkan anaknya dan tak pernah meminta imbalan atas semua itu. Maka, logis dan wajar jika Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk senantiasa memuliakan ibunya karena jasa dan kasih sayangnya.

Untuk memperoleh makna dari pembahasan ini, mari kita sama-sama renungkan artikel kecil di bawah ini, dengan judul  Waspadalah !! Sisi Gelap Kasih Sayang Orang Tua”.

 

Pendahuluan

Menurut ajaran Islam, kaum wanita mendapat tempat terhormat dalam tata kehidupan manusia. Terdapat beberapa dalil yang menjadi dasar tentang berbuat baik kepada orang tua, baik firman Allah dalam Al Quran maupun sabda Rosul di dalam al-Hadits yang mengandung informasi sekaligus menunjukkan betapa Islam menjungjung tinggi kaum wanita, juga terdapat anjuran agar kaum Muslimin menghormati dan memuliakan kaum wanita, khususnya ibu.

Dalam QS Surat Al-Israa: 23, Allah berfirman yang artinya :”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Kemudian salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ath-Thabarani, yakni hadits Mu’awiyah bin Jahimah, bahwasanya beliau datang kepada Rasulullah  seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku hendak berperang, kini aku datang untuk meminta pendapat engkau.” Rasulullah  menjawab, “Apakah engkau mempunyai ibu?” Jawabnya, “Ya.” Lalu Rasulullah  bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya. Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” Makna dari hadits tersebut  adalah tawadhu’ atau rendah hati kepada  ibu merupakan sebab ma­suknya seseorang ke dalam surga.  Ada juga yang berpendapat bahwa, jika seorang Ibu ridha kepada anaknya, maka Allah pun ridha padanya. Implikasinya, Islam mengajarkan agar seorang Muslim senantiasa berbuat baik kepada orang tuanya, terutama kepada ibu sebagaimana  dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Ibumu! Orang tersebut bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, Ibumu.’ Orang tersebut bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Benar kiranya, kedua orang tua, khususnya ibu, memiliki keistimewaan dalam menjalankan kodratnya sebagai wanita dan sebagai ibu. Kasih sayangnya tak pernah habis, sehingga para pujangga melukiskannya dengan ungkapan yang menyatakan “kasih ibu sapanjang jalan”, hal ini terbukti dan kita dapat merasakannya. Para ibu di muka bumi ini telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan mulia, namun terdapat satu hal yang kurang disadari bahwa di balik kemuliaannya terdapat tindakan keliru yang dapat merugikan anak di masa depan, terutama dalam pembentukan karakter dan kepribadiannya. Kekeliruan tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan sang Ibu.

 

Sisi Gelap Kasih Sayang Ibu. 

Berbahagialah ibu, engkau adalah Duta Allah di muka Bumi dalam hal kasih sayang. Betapa banyak anak-anak manusia yang mendambakan hidup bahagia di dunia dan akhirat, jalan yang ditempuh adalah berbuat baik kepada kedua orang tua sesuai anjuran Allah SWT. Jutaan anak berusaha menjadi anak baik, tujuannya tiada lain hanya ingin mendapatkan ridha Allah, melalui ridha ibunya. Anak-anak manusia mengakui, betapa besarnya jasa dan kasih sayang seorang ibu. Tidak sedikit orang sukses mengakui, bahwa kesuksesannya atas ijin Allah berkat do’a ibunya. Banyak pula saksi hidup, bahwa orang yang senantiasa berbakti dan memuliakan ibunya, hidupnya relatif tenang dan bahagia. Namun demikian, terdapat satu hal yang perlu diwaspadai oleh ibu-ibu selama mengasuh anak dengan penuh kasih sayang, yakni kasih sayang yang bermuatan didikan kontra produktif, bahkan negatif.

Sebelumnya telah dikemukakan bahwa hidup ini adalah pendidikan, pendidikan adalah hidup. Dengan kata lain pengertian pendidikan dalam arti luas adalah hidup, karena dalam kehidupan di dunia inilah manusia dididik oleh alam dan lingkungan melalui interaksi. Namun perlu digarisbawahi, bahwa pendidikan dalam kehidupan segala sesuatunya berjalan secara alami, dalam arti tidak direncanakan secara formal, sehingga antara muatan yang negatif dan positif sulit dikontrol, apalagi jika sang Ibu sebagai pendidik tidak paham dan tidak menyadari bahwa apa yang dikatakan dan diperbuatnya setiap saat merupakan proses pendidikan yang akan berkesan dalam jiwa anak. Menurut para ahli ilmu jiwa, anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai masanya. Kemampuannya bertambah setiap saat secara bertahap, baik melalui dari apa yang dilihatnya, didengarnya, dirasakannya, dan dialaminya. Hal-hal yang diterima oleh anak secara terus menerus (paling tidak sering), pelan-pelan akan tertanam dalam jiwanya yang kelak akan menopang pembentukan kepribadiannya. Menurut Elga Andriana (2010:128) :”Pada anak-anak, meniru gaya atau prilaku orangtua adalah hal biasa. Proses peniruan yang biasa ini disebut imitasi yang dilakukan anak-anak terhadap orangtuanya. Hal ini adalah sesuatu yang wajar. Orang tua adalah model/figure bagi anak. Perilaku meniru ini didasari oleh keingintahuan anak yang semakin besar dengan mencoba-coba sesuatu sesuai dengan tumbuh kembangnya”. Benar, proses menirunya wajar, karena memang demikian kehendak sang Maha Pencipta, bahwa anak manusia ditakdirkan harus menjalani hidup melalui fase-fase tertentu untuk mempersiapkan diri dalam kehidupannya di masa dewasa. Namun yang sering dilupakan, tidak disadari, atau karena ketidaktahuan, banyak ibu yang tetap konsisten mencurahkan kasih sayangnya namun melupakan nilai didikannya. Idealnya, kalau memang tahu bahwa anak biasa meniru, maka ibu harus mengucapkan yang baik, melakukan yang baik, dan memberikan pengalaman  yang baik, agar yang tertanam dalam jiwa anak juga yang baik-baik. Ibu pun banyak yang tidak menyadari, bahwa apa yang diucapkan dan dilakukannya akan tertancap kuat pada jiwa anak yang memang masih kosong. Maka, apa yang diucapkan dan dilakukan ibu, menjadi bahan baku utama tentang pembentukan kepribadian si anak dan akan terbawa sampai ia dewasa.

Agar lebih jelas, berikut dikemukakan contoh kasus yang mungkin masih terjadi sampai saat ini.  Di antara para ibu memang banyak yang sudah mengetahui tentang hal ini, namun bagi yang belum paham diharapkan tulisan ini bisa membuka cakrawala dan menambah wawasan untuk menghindari kesalahan dalam mendidik di lingkungan rumah tangga.

Jika seorang ibu sangat menyayangi anaknya wajar dan alami, karena itulah kodrat seorang ibu. Apalagi jika anaknya sedang lucu-lucunya, misalnya antara usia dua sampai tiga tahun. Anak pada usia ini memang ditakdirkan super lucu, gerak-geriknya, senyumnya, kedip matanya, kulitnya, bahkan menangis pun tetap lucu. Maka  saking sayangnya, seorang ibu rela melakukan apa pun demi buah hati yang dicintainya. Suatu ketika, si Kecil Mungil yang lucu sedang belajar berjalan sambil tertawa manis. Namun karena langkah kakinya belum mantap, tiba-tiba ia menabrak kursi dan jatuh, lalu menangis.

Melihat kejadian itu, sang Ibu serta merta meraih buah hatinya lalu dirangkul kemudian didekap penuh kasih sayang. Kepala si Kecil Mungil dibelai untuk menenangkan hatinya, kemudian dengan lantang bicara sambil memandang kursi yang tak berdosa “Eh, dasar kursi kurang ajar, kamu nakal yah !” Adegan berikutnya kursi dipukul, seolah-olah kursilah yang bersalah dalam peristiwa itu dan patut dihukum. Acting sang ibu tersebut disaksikan oleh si Kecil Mungil, walau air matanya masih berlinang, tangisnya reda sambil menatap kursi yang dianggap bersalah. Satu adegan dramatis selesai dipertunjukkan, sang ibu tenang hatinya, karena si Kecil Mungil sudah tidak menangis lagi. Menurut sang Ibu, ia baru saja selesai melakukan kewajibannya dalam menjaga keselamatan buah hati yang sangat disayanginya. Secara fisik, ya. Tetapi sebutir kecil bibit karakter buruk telah tertanam di dalam jiwa anak yang masih bersih itu.

Pada kesempatan lain, peristiwa serupa dengan versi yang berbeda  terulang lagi. Setiap kali si Kecil jatuh, atau mengalami kecelakaan kecil, yang selalu dipersalahkan oleh Ibu adalah pihak lain. Kursi, meja, tiang, karpet, dan benda-benda lain menjadi kambing hitam yang tak pernah protes. Bahkan suatu saat, ketika sang anak mulai bersosial dengan teman sebayanya, pada saat terjadi sengketa kecil yang biasa terjadi pada anak-anak, yang dipersalahkan adalah anak lain. Maka, setiap kali adegan itu berlangsung, setiap kali itu pula sebutir karakter buruk tertanam dalam jiwa si Kecil dan terus menumpuk semakin banyak memenuhi ruang-ruang kosong dalam jiwa anak tersebut. Semakin lama semakin kuat dan  mendarah-daging, maka selanjutnya akan mewarnai jiwa anak tersebut. Jika sudah demikian, tak ada lagi rasa bersalah dalam dirinya, yang ada adalah kebiasaan menyalahkan pihak lain, yang berarti tidak akan bertanggungjawab.

Silahkan tebak, apa yang akan terjadi kelak di kemudian hari, manakala anak tersebut beranjak remaja dan dewasa? Mampukah proses pendidikan di Sekolah merubah karakter yang sudah mendarahdaging sejak anak itu kecil?  Sudah saatnya dilakukan pendidikan yang sinergis, antara pendidikan di lingkungan keluarga dengan pendidikan di sekolah, karena satu sama lain saling menopang. Tidak elok, jika kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik hanya dibebankan kepada pendidikan formal saja.

Sementara pepatah mengatakan bahwa “Belajar di waktu kecil bagaikan melukis di atas batu, sedangkan belajar di masa dewasa bagaikan melukis di atas air”. Idealnya, pendidikan dasar yang paling mendasar terjadi secara wajar dan benar di lingkungan keluarga, sedangkan penguatan, penambahan, perluasan, dan penyerasian dengan lingkungan sosial yang lebih luas dilakukan di lingkungan pendidikan formal (sekolah).

 

Kesimpulan

Dalam sistem pendidikan nasional dikenal adanya jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan Dasar yang dimaksud  adalah jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat (UU No 20/2003, Pasal 17). Pada umumnya, peserta didik yang diterima di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah adalah anak yang sudah memasuki usia sekolah, kurang lebih 7 tahun. Artinya, anak tersebut telah memiliki dasar-dasar kemampuan dan potensi secara personal hasil didikan orang tua di lingkungan keluarga yang harus diperkuat dan dilengkapi di Sekolah Dasar, jika potensi dan kemampuan tersebut positif.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah dasar-dasar yang tersembunyi dan bersifat negatif sebagai akibat kekeliruan pendidikan di lingkungan keluarga. Oleh karena latar belakang orang tua berbeda, baik latar belakang pendidikan, ekonomi, status sosial, kepercayaan dan lingkungan, maka potensi dasar yang dimiliki para peserta didik pun diyakini akan berbeda-beda. Belum lagi akibat perbedaan minat, bakat, kesehatan, gizi, dan yang lainnya. Maka sudah dapat dipastikan, bahwa peserta didik yang masuk ke SD/MI  kondisinya akan bervariasi.

Bagi guru SD/MI, kondisi demikian tidak mungkin dapat dihindari, sebab apa pun keadaannya harus dihadapi. Untuk mengatasinya, guru SD/MI harus dibekali kemampuan memahami karakter peserta didik, agar bisa mengenali karakter masing-masing secara individual  dan memiliki kemampuan memilih dan menerapkan strategi dan metode mengajar yang tepat.

Dengan kata lain, Guru SD/MI harus siap pakai, siap menghadapi kondisi apa pun. Adalah suatu kebanggaan, apabila guru SD/MI mampu merubah karakter peserta didik menjadi lebih baik dan cerdas.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Andriana, Elga. 2010. Tanya Jawab Problema Anak Usia Dini, Yogyakarta: Kanisius.

Badudu, JS. 2008. Kamus Peribahasa; Memahami Arti dan Kiasan Peribahasa, Pepatah, dan Ungkapan,  Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Sahu, Bhagirathi. 2004. The New Educational Philosophy, New Delhi:Sarup & Son.

Sumartono. 2004.Komunikasi Kasih Sayang, Jakarta: PT Elek Media Komputindo.

http://quran.al-shia.org/id/qesseh-quran/index.htm

   



Dosen PGSD Fakultas Pendidikan Dasar-Universitas Majalengka.